Mencari Sekolah yang Tepat untuk Haidar: Perjalanan Kami Menemukan SDIT Al Fikroh Bekasi
Catatan perjalanan keluarga — Agustus 2026
Tulisan ini adalah bagian dari personal journey saya sebagai seorang ayah. Saya menuliskannya bukan sebagai ulasan resmi sekolah, melainkan sebagai pengalaman pribadi kami saat mencari sekolah dasar yang sesuai untuk Haidar. Semoga pengalaman ini bisa membantu orang tua lain yang sedang berada dalam perjalanan yang sama.
Awalnya Kami Hanya Ingin Haidar Punya Sekolah yang Cocok
Tahun 2026 adalah tahun yang cukup penting bagi Haidar, anak kedua kami.
Setelah menjalani gap year selama satu tahun, akhirnya kami memutuskan bahwa Haidar siap mulai masuk SD.
Sebenarnya sejak awal kami sudah cukup banyak berdiskusi mengenai sekolah yang tepat untuknya.
Kami memiliki pengalaman dengan kakaknya, Haikal, yang bersekolah di SDIT Widya Duta. Tetapi untuk Haidar, kami merasa kebutuhannya sedikit berbeda.
Istri saya sejak awal lebih memilih sekolah yang tidak terlalu panjang jam belajarnya, sehingga Haidar tidak terlalu kelelahan.
Rencana awal kami kurang lebih seperti ini:
- sekolah pagi dan pulang sekitar pukul 10–11,
- kemudian belajar dengan Bu Fatimah,
- sore mengaji,
- malam belajar bersama saya.
Kami juga mencari sekolah yang mau menerima Haidar dan tidak terlalu kaku dalam standar akademiknya.
Setelah mendapat rekomendasi dari teman istri, akhirnya kami memilih Sekolah Dasar Negeri.
Saat itu kami merasa keputusan tersebut cukup masuk akal.
Dan Haidar pun akhirnya diterima.
Tiga Hari yang Mengubah Rencana Kami
MPLS dimulai pada Senin, 13 Juli 2026.
Di sinilah kami mulai melihat bahwa realitas sekolah negeri ternyata cukup berbeda dengan bayangan kami.
Satu kelas berisi sekitar 37 anak.
Guru tentu memiliki keterbatasan untuk memberikan perhatian secara individual kepada setiap anak.
Pada hari pertama, Haidar masih beberapa kali tidak mau mengikuti kegiatan dan membutuhkan pendampingan.
Padahal secara akademik, ternyata dia cukup mampu mengikuti kegiatan.
Dalam beberapa aktivitas menulis, Haidar bahkan bisa menyelesaikan tugas dengan sangat cepat.
Tetapi suasana kelas yang panas dan ramai membuatnya lebih mudah rewel.
Hari kedua, istri saya pulang dalam keadaan sangat sedih.
Dan pada hari ketiga, Rabu, 15 Juli, akhirnya istri saya menelepon saya dan meminta dijemput dari sekolah.
Kami kemudian bertemu dengan kepala sekolah.
Kami menyampaikan kondisi Haidar dan kekhawatiran kami.
Kami juga mendapat penjelasan bahwa pihak sekolah tentu akan berusaha membantu, tetapi tidak dapat menjamin Haidar akan mendapatkan pendampingan secara intensif.
Bagi kami, itu menjadi titik penting.
Bukan berarti sekolah tersebut buruk.
Bukan juga berarti guru-gurunya tidak baik.
Tetapi kami mulai menyadari bahwa lingkungan tersebut mungkin bukan lingkungan yang paling sesuai untuk Haidar saat ini.
Saat Itu Kami Benar-Benar Tidak Tahu Harus ke Mana
Setelah pulang dari sekolah, saya dan istri akhirnya memutuskan untuk mencari sekolah lain.
Jujur, saat itu kami sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi beberapa kemungkinan.
Kami sudah tahu bahwa mencari sekolah yang mau menerima Haidar di tengah tahun ajaran bukan sesuatu yang mudah.
Kami bahkan sudah menyiapkan beberapa sekolah alternatif yang masih membuka pendaftaran.
Kalau harus ditolak beberapa kali, kami siap.
Tetapi ternyata Allah memberikan jalan yang tidak kami duga.
Sekolah pertama yang kami datangi justru menerima kami dengan sangat terbuka.
Namanya:
SDIT Al Fikroh Bekasi
Dan yang lebih menarik, sekolah ini ternyata hanya sekitar 1 km dari rumah kami dan lokasinya juga tidak jauh dari tempat Haidar mengaji.
Pertemuan Pertama dengan SDIT Al Fikroh
Kami bertemu langsung dengan kepala sekolah dan ketua yayasan.
Kami menjelaskan kondisi Haidar apa adanya.
Kami juga membawa laporan perkembangan dan hasil belajar Haidar selama belajar dengan Bu Fatimah.
Saya tidak datang dengan asumsi bahwa sekolah pasti akan menerima.
Kami justru sudah siap jika harus mendengar:
“Maaf, kami belum bisa menerima.”
Tetapi respons yang kami dapatkan berbeda.
Pihak sekolah mau mendengarkan.
Haidar juga diberikan kesempatan untuk mengikuti assessment sebelum mulai belajar.
Dan setelah melihat Haidar secara langsung, pihak sekolah menyatakan bersedia menerima Haidar.
Bagi kami, ini adalah titik yang sangat melegakan.
Yang Membuat Kami Tertarik dengan Al Fikroh
Salah satu hal yang paling menarik perhatian kami adalah jumlah siswa dalam kelas.
Saat Haidar mulai masuk, jumlah siswa di kelasnya adalah sekitar:
14 anak
Dan dari 14 anak tersebut, terdapat sekitar 3 anak yang mengikuti program inklusi, termasuk Haidar.
Bagi kami, perbedaannya sangat terasa.
Kami baru saja datang dari lingkungan kelas dengan sekitar 37–40 anak.
Sekarang Haidar berada di kelas yang hanya berisi sekitar 14 anak.
Tentu saja jumlah siswa bukan satu-satunya ukuran kualitas sekolah.
Tetapi bagi Haidar, kami merasa lingkungan dengan jumlah anak yang lebih sedikit memberikan kesempatan kepada guru untuk mengenal setiap anak dengan lebih baik.
Hal lain yang membuat kami cukup tenang adalah bahwa pihak sekolah sudah terbiasa menangani anak-anak dengan kebutuhan yang berbeda.
Jadi Haidar bukan satu-satunya anak yang membutuhkan pendekatan khusus.
Program Inklusi dan Psikolog
Ada satu hal yang awalnya cukup membuat kami berpikir mengenai biaya.
Untuk siswa reguler, SPP yang kami dapatkan informasinya adalah:
Rp450.000 per bulan
Sedangkan untuk siswa yang mengikuti program inklusi:
Rp1.000.000 per bulan
Ada tambahan sekitar Rp550.000 per bulan.
Awalnya kami mengira tambahan Rp550.000 tersebut hanya karena ada sesi psikolog satu kali setiap bulan.
Setelah kami tanyakan kembali, ternyata konsepnya lebih luas.
Biaya Rp1 juta tersebut merupakan SPP untuk siswa yang mengikuti program inklusi, dan psikolog akan melakukan pemantauan perkembangan anak secara berkelanjutan.
Pihak sekolah juga menjelaskan bahwa program tersebut akan terus dievaluasi.
Jika nantinya, misalnya saat kelas 2, perkembangan Haidar sudah cukup baik dan dia dinilai tidak lagi membutuhkan layanan psikolog/program inklusi tersebut, maka SPP dapat kembali ke tarif normal:
Rp450.000 per bulan.
Untuk kami, informasi ini cukup penting.
Artinya program tersebut bukan sebuah label permanen.
Ada evaluasi berdasarkan perkembangan anak.
Catatan: Informasi biaya di atas adalah biaya yang kami dapatkan untuk tahun ajaran 2026/2027. Biaya dan kebijakan sekolah dapat berubah, sehingga calon orang tua sebaiknya melakukan konfirmasi langsung kepada pihak sekolah.
Setelah Beberapa Minggu: Apakah Keputusan Kami Tepat?
Hari ini, awal Agustus 2026, kami sudah menjalani beberapa minggu bersama Al Fikroh.
Dan sekarang kami mempunyai data yang jauh lebih baik dibanding ketika baru pertama datang.
Salah satu hal yang membuat kami bersyukur adalah melihat bagaimana guru-guru memperlakukan Haidar.
Mereka care.
Dan yang tidak kalah penting:
kami tidak melihat adanya perlakuan diskriminatif terhadap Haidar.
Istri saya yang paling sering berinteraksi dengan sekolah juga merasa jauh lebih tenang.
Bahkan dia sendiri mengatakan:
“Dengan kondisi seperti ini, SPP segitu worth it.”
Menurut saya, kalimat itu cukup berarti.
Karena beberapa minggu sebelumnya, orang yang sama sedang menangis karena merasa tidak menemukan lingkungan yang tepat untuk Haidar.
Sekarang dia justru merasa lebih tenang melihat Haidar bersekolah.
Haidar Ternyata Bisa Beradaptasi Lebih Baik dari Perkiraan Kami
Ada hal lain yang cukup menarik.
Awalnya kami mencari sekolah dengan jam belajar pendek karena khawatir Haidar terlalu lelah.
Sekolah sebelumnya memang direncanakan pulang sekitar pukul 10–11.
Di Al Fikroh, Haidar justru pulang sekitar:
13.30
Awalnya kami cukup khawatir.
Tetapi ternyata Haidar mampu menjalaninya.
Dari yang sebelumnya hanya kami bayangkan bisa mengikuti sekolah sampai sekitar pukul 10–11, sekarang dia mampu menjalani aktivitas sekolah sampai sekitar pukul 13.30.
Tentu bukan berarti semuanya selalu mudah.
Masih ada hari ketika Haidar lelah atau membutuhkan penyesuaian.
Tetapi bagi kami, kemampuan beradaptasi ini merupakan perkembangan yang patut disyukuri.
Bu Fatimah Tetap Menjadi Bagian dari Perjalanan Haidar
Salah satu kekhawatiran kami ketika Haidar pindah sekolah adalah bagaimana dengan jadwal belajarnya bersama Bu Fatimah.
Bu Fatimah sudah mendampingi Haidar selama satu tahun sebelumnya.
Karena jam sekolah Al Fikroh selesai sekitar pukul 13.30, kami kemudian berdiskusi dengan beliau.
Jam terakhir mengajar Bu Fatimah biasanya sekitar pukul 13.00.
Tetapi beliau bersedia menyesuaikan jadwal untuk Haidar menjadi:
13.30–14.30
Setelah itu beliau memang sudah memiliki kesibukan lain dengan anak-anak mengaji dan keluarganya.
Saya sangat menghargai kesediaan beliau untuk menyesuaikan jadwal.
Beliau juga sangat senang dan bersyukur ketika mengetahui bahwa Haidar akhirnya diterima di sekolah baru yang menurut kami lebih sesuai.
Jadi sekarang kami memiliki semacam ekosistem kecil untuk mendukung Haidar:
Rumah → Sekolah → Bu Fatimah → Rumah kembali.
Semoga semuanya bisa berjalan selaras.
Berapa Biayanya?
Untuk tahun ajaran 2026/2027, total biaya daftar ulang yang kami bayarkan adalah:
Rp8.500.000
Pembayaran tidak harus sekaligus.
Kami membayar:
Termin 1: Rp4.200.000
Sedangkan sisanya dapat dicicil sampai sekitar Juni 2027.
Untuk SPP:
|
Komponen |
Biaya |
|
SPP reguler |
Rp450.000/bulan |
|
SPP program inklusi |
Rp1.000.000/bulan |
|
Tambahan program inklusi |
±Rp550.000/bulan |
Untuk tahun pertama ini, kami akan memasukkan Rp1 juta/bulan sebagai salah satu pos pendidikan Haidar.
Kalau nantinya Haidar dinilai sudah tidak membutuhkan program inklusi, pihak sekolah menyampaikan bahwa SPP dapat kembali ke tarif normal Rp450.000.
Informasi Singkat SDIT Al Fikroh
|
Informasi |
Keterangan |
|
Nama |
SDIT Al Fikroh |
|
Lokasi |
Pondok Ungu Permai, Kaliabang Tengah, Bekasi Utara |
|
Jarak dari rumah kami |
±1 km |
|
Status |
Sekolah swasta |
|
Jumlah siswa kelas Haidar |
±14 anak |
|
Siswa inklusi di kelas |
±3 anak |
|
Program psikolog |
Ada |
|
SPP reguler |
Rp450.000/bulan |
|
SPP inklusi |
Rp1.000.000/bulan |
|
Jam pulang Haidar |
±13.30 |
|
Website |
Lokasi Google Maps:
https://maps.app.goo.gl/gtmKUE1KGajcVg9JA?g_st=ic
Brosur :
Kalau Anda Sedang Mencari Sekolah Inklusi
Saya menulis bagian ini karena saya tahu betapa membingungkannya posisi orang tua ketika sedang mencari sekolah untuk anak.
Kita tidak hanya mencari sekolah yang bagus.
Kita mencari sekolah yang mau menerima anak kita dan memahami kebutuhannya.
Berdasarkan pengalaman kami, saya tidak ingin mengatakan:
“SDIT Al Fikroh adalah sekolah terbaik.”
Karena setiap anak berbeda.
Apa yang cocok untuk Haidar belum tentu cocok untuk anak lain.
Tetapi kalau Anda tinggal di sekitar Bekasi Utara atau sekitarnya dan sedang mencari sekolah yang memiliki program inklusi, menurut saya SDIT Al Fikroh layak dimasukkan ke dalam daftar sekolah yang bisa disurvei secara langsung.
Ketika datang, saya menyarankan jangan hanya bertanya:
“Apakah sekolah menerima ABK?”
Tanyakan lebih jauh:
- Berapa jumlah siswa dalam satu kelas?
- Berapa anak yang mengikuti program inklusi?
- Apakah ada psikolog?
- Seberapa sering perkembangan anak dipantau?
- Apakah ada laporan perkembangan?
- Bagaimana komunikasi guru dengan orang tua?
- Bagaimana sekolah menangani anak yang kesulitan beradaptasi?
- Apakah membutuhkan shadow teacher?
- Apakah ada biaya tambahan?
- Apa yang menentukan seorang anak tetap atau keluar dari program inklusi?
- Berapa lama jam sekolah?
- Bagaimana sekolah menangani anak yang mengalami kelelahan atau overstimulasi?
Menurut saya, pertanyaan terakhir ini sangat penting.
Karena “menerima anak inklusi” dan “mampu mendampingi anak inklusi” adalah dua hal yang berbeda.
Penutup: Ternyata Kami Tidak Perlu Mencari Terlalu Jauh
Kalau saya mengingat kembali tanggal 15 Juli 2026, rasanya cukup luar biasa.
Hari itu adalah hari yang berat bagi saya dan istri.
Kami baru saja memutuskan untuk mengundurkan diri dari sekolah yang sudah kami pilih.
Kami sudah mengeluarkan uang.
Kami sudah mendaftarkan Haidar.
Kami sudah mempersiapkan semuanya.
Dan tiba-tiba kami harus mulai mencari lagi.
Kami bahkan sudah menyiapkan beberapa sekolah lain dan secara mental siap kalau harus kembali mendapatkan penolakan.
Tetapi ternyata, sekolah pertama yang kami datangi justru membuka pintunya untuk Haidar.
Lokasinya hanya sekitar 1 km dari rumah.
Kelasnya kecil.
Ada anak-anak lain yang mengikuti program inklusi.
Guru-gurunya terlihat care.
Ada pemantauan psikolog.
Dan yang paling penting bagi kami:
Haidar diterima.
Saya tidak tahu apakah beberapa tahun ke depan Haidar akan tetap bersekolah di sini.
Saya juga tidak tahu bagaimana perkembangannya nanti.
Kami masih harus menjalani prosesnya satu per satu.
Tetapi untuk hari ini, kami bersyukur.
Karena setelah beberapa hari yang sangat berat, kami akhirnya menemukan sebuah tempat yang membuat kami bisa berkata:
“InsyaAllah, di sini Haidar bisa berkembang.”
Dan mungkin itu yang sebenarnya kami cari sejak awal.
Bukan sekolah yang paling sempurna.
Bukan sekolah yang paling terkenal.
Tetapi sekolah yang mau melihat Haidar sebagai seorang anak, bukan sekadar sebagai sebuah kondisi.
Semoga Haidar terus bertumbuh.
Pelan-pelan.
Dengan caranya sendiri.
Dan semoga suatu hari nanti, ketika dia membaca tulisan ini, dia tahu bahwa sejak awal ayah dan ibunya selalu berusaha mencari tempat terbaik untuknya.
Bismillah, perjalanan baru Haidar dimulai.
Catatan Privasi
Tulisan ini sengaja tidak mencantumkan diagnosis atau informasi medis/pribadi Haidar. Tujuannya adalah berbagi pengalaman kami sebagai orang tua dan memberikan informasi praktis bagi keluarga lain yang sedang mencari sekolah inklusi, sekaligus tetap menjaga privasi Haidar sebagai seorang anak.

Comments